Aku udah mutusin buat ikhlas nerima perjodohan dari mama sama papa. Walaupun awalnya aku menolak, tapi setelah banyak pertimbangan akhirnya aku mutusin untuk nerima perjodohan itu. alasannya, karna aku ngerasa mungkin Tuhan ngasih aku jodoh dari jalan ini.
Pada dasarnya, aku memang bukan seorang pembangkang. Walau kadang selalu ada kata penolakan tapi bukan berarti aku tidak bisa diberi pengertian untuk akhirnya mengerti dan menerima. Karna itu, sejak kecil aku jadi anak kesayangan mama dan papa.
Malam ini dengan balutan gaun biru kesukaanku, aku menetapkan hati untuk melangkah. Walau dengan hati yang gundah dan rasa takut yang menyerang, aku berusaha tenang. Dan mama menemaniku 10 menit sebelum acara dua keluarga ini dimulai.
“Gugup sayang?” katanya.
Aku mengangguk.
“Mama disini nak, nemenin kamu. Hmh,. Gak terasa ya, mama sudah harus siap ngelepas kamu.” ucapnya haru.
“Mama,..” kugenggam tangan mama.
“Denger sayang, mama yakin Andra akan bisa nemenin kamu. mama yakin kamu akan cocok sama dia. Karna mama tau Andra baik, sopan, dan penyayang.”
“Aku percaya ma,..”
“Udah waktunya sayang,..”
Aku menghela nafas, membuang rasa takut dan gundah di hati. Menggenggam tangan mama semakin erat meminta kekuatan.
Tiba diruang tamu, aku melihat seorang pria yang kupastikan dialah Andra. Cowok yang dibanggakan mama untukku, anak kesayangannya. Kulihat Andra diam tak banyak bicara, ia hanya membagi senyumnya selalu. Aku tersenyum dalam hati, karna aku yakin itu wujud kegugupan Andra yang juga tengah kurasakan kini.
“La, kenalin ini Andra” ucap tante Dira.
Andra mengulurkan tangannya dan kusambut dengan tanganku “Lala,..”
“La, Andranya Ajakin ke taman belakang aja, biar bisa ngobrol berdua..” ucap papa menggoda.
Aku dan Andra masih tampak malu-malu. Tapi tanpa aba-aba, kami melangkah bersama dan menuju taman belakang.
“Hm,.. emang lebih enak disini kayaknya La.” Andra tampak mencair dari kebekuannya.
“Ini tempat yang paling aku suka di rumah...”
“Kamu suka ketenangan?”
“Iya. Makanya kadang kalo lagi libur aku lebih suka ngurung diri nonton DVD seharian dikamar.”
“Kalo gitu hobi kita sama. Nonton!! Kapan-kapan nonton yuk!” katanya spontan kemudian terdiam.
Aku tertawa. “Iya, bolehh.. “
“Kata mama, kamu udah selesai kuliahnya. Rencana mau ngapain?”
“Iya, tapi wisudanya masih bulan depan. Gak tau nih mau ngapain. Aku belum ada rencana..”
“Kalo aku minta nikah sama aku?”
Aku membeku. Menelan ludah dengan perasaan gamang. Tak kusangka Andra akan secepat ini. Tapi, kulihat ia tak memintaku dengan hatinya. Sejak tadi, ia hanya berbicara tapi tak sekalipun menatap mataku. Entah kenapa, tapi ku harap itu adalah sebagian dari kegugupannya.
“Ehm,.!!”
Aku terbangun dari kediamanku.
“Kamu udah tau kan kita dijodohin?” ucapnya pelan.
“Ya,.. seminggu yang lalu. Menurut kamu gimana Ndra?”
“Aku hanya yakin jodoh diatur Tuhan. Tapi kalo kamu terima perjodohan ini, kita pasti berlanjut.. kalo kamu ga setuju, kita sampai disini aja.”
Kini Andra memberikan tatapannya dan tersenyum.
“Ternyata kamu bijak juga, kalo… aku bilang setuju?”
“Aku pasti berterima kasih untuk itu” ucapnya menatap langit.
Detik itu, mataku tak ingin lepas dari sosoknya. Hatiku ingin tahu tentang dia lebih banyak, mengenalnya lebih dekat. Aku tertarik pada Andra.
♥♥
Andra melakukan banyak hal untukku semenjak malam pertemuan itu. waktuku banyak kuhabiskan bersama pria dua tahun lebih tua dariku itu. ada perasaan nyaman ketika bersamanya. Aku merasa Andra datang disaat yang tepat. mengisi kekosonganku selama ini dengan caranya yang sopan dan sedikit diam.
Andra begitu penuh kejutan, pernah ia menjemputku tepat jam 5 pagi dan mengajakku melihat matahari terbit bersama. Tak jarang ia mengirim bunga mawar ke rumah. Mengenalkanku pada kucing lucunya lolo dan mengikrarkan kami sebagai keluarga. Dan sejuta kebahagiaan yang tak ku tahu betapa aku menyukainya.
Pagi ini Andra menjemputku. aku sudah sedikit banyak mengerti tentangnya hingga kuusahakan selalu bangun diatas jam 5 pagi. Aku takut andra akan menjemputku lebih pagi lagi.
Dan memang benar, kini andra berdiri di depan mobilnya dan menungguku yang 5 menit lalu ia telfon.
“Pagi banget. Mau ngajak aku liat sunshine lagi? Ini kan udah telat.”
“Kejutan.”
Aku mengangkat bahu dan menaiki mobilnya.
Andra membawaku ke sebuah gedung yang kutau sebagai gedung yang sering dipakai untuk pernikahan. Aku mengaga, hatiku melayang. Andra, apa ini tanda jika dia ingin kami…. Oh Tuhan.. ingin sekali aku memeluknya dan mengucapkan terima kasih jika itu memang benar. Tapi Andra tidak seperti itu. selama hampir sebulan kami bersama tak pernah sekalipun ia menyentuhku. Dan itulah nilai plus terbesar untuknya dariku.
“Kamu suka?” katanya.
“Ini apa?”
Sebuah lagu Be my wife milik tangga mengalun indah mengiringi kediaman Andra atas pertanyaanku. Aku tahu lagu ini, bahkan aku sempat menyanyikan lagu ini di beberapa kesempatan. Kenapa Andra begitu memahamiku? Ia begitu sempurna untukku. Aku memandangnya. Tapi ia hanya memandang lurus ke depan dan diam. aku mencari perasaannya saat ini. Tak ku temukan di matanya, juga di senyumnya. Andra hanya misterius. Teori psikologi yang kupelajari beberapa tahun terakhirpun tak bisa menerkanya.
“Ndra,.. kenapa diam? kamu gak mau bilang apa-apa?”
Andra memberikan senyumnya. “Aku bukan orang yang cukup mampu mengungkapkan sesuatu. Aku harap kamu ngerti.”
“Tapi, buat aku kamu gak bisa ditebak. Kamu misterius.”
Andra hanya tersenyum, kemudian membelai rambutku lembut.
“Kita pulang,..”
Dalam bahagia, aku menyimpan pertanyaan besar. Andra terlalu menyisakan tanda Tanya dalam benakku. Banyak hal yang ia lakukan tanpa kata. Aku ingin hanya mengerti dirinya tanpa harus ia jelaskan. Tapi hatiku mengatakan aku ingin kejelasan. Walaupun tak panjang. Jika Andra bermaksud ingin kami benar-benar menikah, setidaknya andra harus mengatakannya.
Aku melirik andra yang sibuk menyetir. Kuperhatikan wajahnya, terus kuperhatikan hingga aku melihat Andra seperti sedang berfikir keras. matanya kosong. Ini seperti bukan Andra yang biasa bersamaku beberapa minggu ini. Apa yang terjadi dengan Andra? Apa ia baik-baik saja? Batinku.
“Ndra, kamu sakit?”
Andra diam, ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Ndra?”
“Oh,. Maaf La.”
“Ada yang lagi kamu fikirin? Aku liat kamu gak kayak biasanya. Kamu sakit…?”
Andra menggeleng cepat. Lalu tersenyum kaku.
“Kalo kamu punya masalah, kamu bisa cerita sama aku. Mungkin aja aku bisa bantu. Atau.. sekedar ngeringanin beban kamu?”
“Engga La. Aku pastiin aku gak apa-apa.”
Ada perasaan takut dihatiku detik itu. entah ketakutan akan terjadi sesuatu pada Andra, atau ketakutan akan terjadi sesuatu padaku?.
♥♥
00.30 malam, 28 juli. Hari ulang tahunku.
Aku mendapati Bi Ayu membangunkanku dari tidur. Aku belum mau membuka mataku saat itu. tapi setelah bi ayu bilang Andra datang mencariku, aku segera terbangun.
“Serius bi? Andra? Sekarang dia dimana?”
“Iya,.. masa atuh bibi bohong. Tapi mas Andra gak mau masuk, katanya disini aja. Sekarang dia diluar..”
Aku hanya berfikir Andra akan mengajakku merayakan hari ulang tahunku bersamanya. Meniup lilin diiringi doa yang kupanjatkan untuk kami. Bercerita sampai pagi, dan melihat sunshine bersama. Bahkan aku berharap Andra akan melakukan kejutan yang lebih besar dari itu. aku begitu tak sabar merasakan kemungkinan kebahagiaan yang diberikan Andra padaku malam ini. Aku memikirkan banyak hal yang menyenangkan. Terlalu banyak. Hingga aku tak sempat memakai sandal ketika keluar rumah.
Diluar, gerimis mulai menyentuh bumi. Aku menghampiri Andra yang kulihat sabar menungguku.
“Hujan Ndra, masuk yuk!!”
“Engga La, ada yang harus aku omongin. Dan aku ngga bisa nunggu sampai besok.”
Andra tiba-tiba berlutut.
“La, maafin aku…” ucapnya lirih.
Senyumanku memudar.
“Ada apa?”
“La, aku.. a.aku.. aku ga bisa nikah sama kamu…” andra terdiam sesaat “ aku sayang Niken.” bisiknya
Deg!!!
Aku merasa hatiku ditusuk, pisaunya terus masuk dan tertanam hingga begitu dalam. Dan rasanya sakit, sakit sekali. Air mataku meleleh..
“Maaf karna aku baru bilang sekarang. Awalnya aku udah mutusin untuk ngelepas Niken dan menuruti mama papa untuk dijodohin. Aku.. aku.. udah coba untuk berpaling dari Niken. Ngedeketin kamu dan terus nyoba buat sayang sama kamu. aku lakuin semua hal yang aku pernah lakuin buat Niken, berharap kamu bisa gantiin posisi dia di hati aku. Tapi, tapi.. aku bener-bener ga bisa. Niken selalu ada di otak sama hati aku. Dia terus dateng di mimpi aku. Dia segalanya buat aku La,..”
Aku berlutut mengimbanginya. Aku mulai terisak.
“Se..se..mua..y.yang..ka..mu..la..kuin..bu..at..a..ku…”
Rasanya perih. Semua yang aku terima selama ini adalah milik Niken. Andra ngelakuin hal yang pernah ia lakuin ke Niken buat aku?.
“La, aku minta maaf…”
“Ini..yang kamu fikirin kemaren?”
“La, kamu adalah hal indah yang gak seharusnya tersakiti. Aku emang bego!! Aku bego banget udah nyakitin kamu. maafin aku.. maafin aku..”
Aku melihat Andra menangis. Menangis tersedu. Hatiku makin perih. Aku ga sanggup ngeliat Andra begini. Ia gak harus seperti ini.
“Aku bener-bener gak sanggup ngelepas Niken. Aku masih sayang banget sama Niken. Ga ada dia aku kosong. Hidupku ga ada artinya. Aku sayang dia La,.. aku sayang dia…”
“Jangan gini Ndra,..” air mataku sudah tak mampu ku bendung. Ia terus membanjiri wajahku.
“Kamu,.. harus kejar Niken.. aku gak apa-apa. Kamu gak usah khawatir. Bahkan kalo aku mampu, aku akan bilang sama cewek diseluruh dunia untuk jangan pernah sekalipun nyakitin cowok yang aku sayang ini…”
Andra menatap mataku dalam. Lalu ia membawaku dalam pelukannya.
“Semoga Tuhan ngasih kamu seseorang yang jauh lebih baik dari aku. Menyayangimu lebih dari siapapun. Dan semoga kamu selalu bahagia.” Ucap Andra masih dalam tangisnya.
“Amien.. amien..”tangisku.
Itulah doa terbaik dari orang yang paling kusayang di ulang tahunku ini. Hujan masih gerimis, ia tak menderas pun tak berhenti. Aku ingin melepas Andra seperti awan melepas hujan untuk bumi. Kami masih berpelukan dan saling menguatkan. Berharap setelah ini hanya akan ada bahagia yang mengiringi langkah kami masing-masing. Aku tau, akhirnya aku memang salah mengambil keputusan. Salah menilai Andra dan sikapnya. Salah membawa perasaanku. Salah mengartikan keadaan yang seharusnya ku hadapi dengan bijak. Tapi, jika tidak ada kesalahan maka aku tidak belajar.
Terima kasih Andra, harapku bahagiamu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar