Arman membawakanku ice cream
berukuran besar dengan cake cantik bertuliskan “HAPPY BIRTHDAY” diatasnya.
Setangkai bunga mawar merahpun sudah diletakkan Arman di kursi taman tempat
dimana kini aku sudah duduk manis.
“Selamat ulang tahun Anin,.” ucapnya
begitu manis.
Aku tertegun karna terlalu terkejut.
Orang-orang disekeliling kami melihat dengan jelas suasana indah yang sama
sekali tak kunikmati ini. Beberapa orang diantara mereka menjerit entah
mengapa. Beberapa yang lainnya saling berbisik, pun entah mengapa. Aku
mengamati Arman yang masih bersiap mengeluarkan sebuah kado berukuran besar
dari mobilnya.
“Cukup Man,.”
Aku mendekati Arman yang berusaha
keras mengeluarkan kado besarnya dari dalam mobil.
Arman menghentikan aktifitasnya
sejenak “Aku seneng kok bisa ngelakuin banyak hal buat kamu Nin,.”
“Kamu kenapa sih Man? Jangan gini,.”
Aku berusaha menghentikan Arman. “Tolong,..”
Arman sama sekali tak bergeming.
Aku membawa semua yang sudah Arman
berikan dan menyimpannya satu persatu ke dalam mobil Arman. Arman menghela
nafasnya, tersenyum dan membantuku membawa salah satunya.
“Kamu yang kenapa Nin,.?” Arman
masih dengan intonasi suaranya yang lembut.
“Tolong cari cewek lain yang lebih
baik dari aku, yang pantes buat dikasih hal seindah ini sama kamu. Kamu orang
baik Man, banyak cewek yang pasti bisa ngebalas sayang kamu, aku,..”
“Aku mau kamu!” tegas Arman memotong
pernyataan Anin.
“Aku udah jelasin, aku ngga bisa
Man. aku sayang Dutha. Jadi sekali lagi aku mohon jangan gini..”
“Kalo gitu kamu cukup terima apa
yang udah aku siapin ya. Aku ngga akan maksa kamu buat sayang sama aku kok,.”
Arman masih tersenyum manis.
Aku menghentikan gerakan tangan
Arman, meraihnya dan menuntunnya untuk mengikutiku duduk di kursi taman.
Melihat Arman yang baik, aku hanya ingin ia menjadi teman terbaik yang dipilih
ayah untukku. Aku merasa Arman butuh pengertian lagi untuk lebih mengerti
keadaan yang aku yakin sama sekali tidak kami inginkan.
“Kenapa?” tanya Arman.
“Hmh,.. cuman pengen duduk disini.
Ngebiarin kamu istirahat. Dari tadi sibuk angkat ini itu, yang malah aku
balikin ke mobil kamu.. jadi mending kita ngobrol disini aja.”
“Kamu aneh. Dan aku suka.”
“Aku juga Man.” arman terhenyak.
Sejenak mata kami bertemu. Kemudian saling menikmati indahnya danau yang berada
tepat didepan tempat duduk kami. “Waktu SMA, temen-temen aku pada sibuk sama
cowok-cowok mereka. Seneng, sedih, bimbang, ragu, perasaan seperti itu
bercampur mewarnai kisah mereka masing-masing. Tapi saat itu, aku cuman
ngagumin sosok yang aku mimpiin. Hehehee.. kamu tau sosok seperti apa yang aku
mimpiin? Yang cerdas kayak kamu, yang pekerja keras kayak kamu, yang punya
prinsip kayak kamu,dokter kayak kamu...”
“Kenapa ga milih aku kalo gitu? Kamu
ngga pengen mimpi kamu jadi kenyataan?” Arman membawa pertanyaannya seolah
begitu ringan, tanpa beban.
Aku mengangguk mengiyakan. “Iya kamu
bener. Tapi mimpi beda sama kenyataan. Kenyataannya, aku nyaman dengan sosok
Dutha yang berfikir begitu sederhana, bersikap apa adanya dan mengajarkan aku
bagaimana mempercayai seseorang dan dipercaya seseorang. Dengan adanya Dutha
aku ngerasa utuh dan punya titik lemah, selayaknya manusia biasa...”
Arman seperti kehilangan kata.
Aku hanya membiarkannya membisu.
Mencerna apa yang kami bicarakan dan membuat keputusan yang benar. Ayah memang
sangat benar mengenalkan aku pada Arman yang Ayah bilang jauh lebih baik
dibandingkan Dutha. Ayah hanya ingin yang terbaik untuk anak sulungnya, dan aku
mengerti. Dan meski aku tidak ingin Ayah kecewa, tapi aku juga tidak akan
melepaskan diri dari Dutha..
♥
“Happy birthday,.” Dutha menyalakan
sebuah lilin putih diatas sebuah cupcake yang ia buat sendiri. Kotoran oli yang
masih bertebaran diwajah Dutha membuatku ingin terbahak.
“Ngga bilang makasih?” Dutha
tersenyum dan membuatku semakin ingin terbahak.
“Abis bikin cupcake apa dari bengkel
langsung kesini?”
Dutha menggaruk rambutnya yang aku
yakin tidak gatal.
“Aku bikin cupcakenya tadi pagi Bi,
waktu kamu ke taman sama Arman”.
Aku mematung. Kemudian memperhatikan
raut muka Dutha yang terlihat tidak apa-apa.
“Kamu ngga marah? Ngga cemburu aku
pergi sama cowok lain????”
Dutha tertawa.”engga”
Aku membesarkan mata. “Kenapa?”
Dutha melepaskan lilin dari cupcake
yang dibawanya. Memotong sebagiannya dan memberikannya padaku. “Cobain,.”
Aku memakan cupcake yang diberikan Dutha,
mengunyahnya sebentar kemudian mengeluarkan seluruhnya. “PAHIIITTT!!” rengekku.
Dutha tertawa. “Karna itu Bi, karna
kamu ngga pernah bohong. Apapun yang terjadi, kamu pasti jujur sama aku. Kayak
rasa cupcake yang aku buat ini. Padahal kamu bisa aja kan makan cupcakenya tapi
menderita karna rasanya pahit banget. Makasih ya Bi, sejelek apapun aku, kamu
tetep sayang sama aku,..”
Dutha selalu begini. Membawa aliran
air sejuk yang menyejukkan hati dan membuat mataku berair ingin menangis.
“Waaahhhh kamu tuh ya ngomong apa
sih? cerewet!!!” aku memeluk Dutha erat. Bersandar disana.
Dutha membalas pelukanku lebih erat.
Membelai rambutku lembut.
“Kau begitu sempurna,,,” Dutha mulai
bernyanyi “..dimataku kau begitu indah,,”
Aku menepuk punggung Dutha pelan “Ga
usah pake nyanyi!”
Dutha semakin mempererat pelukannya
“Kau membuat diriku akan slalu memujamu,...”
“Dutha berhentiiii...!!”
Pelukan Dutha semakin erat dan
nyanyiannya semakin keras “Disetiap langkahku,. Ku kan slalu memikirkan
dirimu,..”
“Duthaaaaa,...!!”
♥
Ayah menyalakan lampu kamarku
sejenak setelah aku menaiki ranjangku bersiap untuk tidur.
“Ayah? Baru pulang?”
Ayah mengangguk. Kemudian duduk
disampingku.
“Hari ini gimana? Arman tadinya mau bikin
pesta ulang tahun buat kamu. Tapi ayah larang.”
“Bagus yah!!” aku mengacungkan
jempolku.
Ayah tertawa “Ayah kan tau apa yang
kamu mau.”
“Makasih yah..” ucapku manja. “Dutha
tadi kesini yah, dia buatin aku cupcake kecil lucuuu banget yah. Tapi udah abis
kita makan berdua. Hihiii”
“Dutha aja yang dateng? Biasanya
Lala, Raya,.. mereka kan temen-temen kamu.”
“Kita kan udah sama-sama sibuk
yah... jadi ga bisa kayak dulu.. tapi mereka ngucapin kok. Lewat sms.”
“Kamu sama Arman gimana?”
“Maksud Ayah?”
“Perjodohan kalian...” ayah mulai
berhati-hati.
“Ayah ngga setuju ya aku sama Dutha?”
“Bukan, ayah pasti ngehargain apapun
pilihan kamu. Apalagi Dutha juga orangnya sopan dan baik. Ayah cuman..”
“Pengen yang terbaik buat aku??”
Ayah mengangguk.
“Yah,..” aku memeluk Ayah. “Dutha
yang terbaik, Insya Allah,.” Bisikku pada ayah.
♥
Pagi ini aku menemukan Dutha
melambaikan tangannya dari bawah ketika aku membuka jendela kamar. Aku membalas
lambaian tangannya dan mengisyaratkan Dutha untuk menungguku sebentar.
Sebelum keluar, aku mencari sesuatu
yang bisa kami makan bersama di perjalanan. Setelah lama mencari, akhirnya aku
menemukan roti yang aku beli tadi malam.
Aku dikejutkan oleh Dutha yang
ternyata sedang berbincang akrab dengan Arman yang tampaknya baru datang.
Melihat mereka begitu dekat membuatku lega. Awalnya aku memang ingin
mengenalkan Dutha pada Arman, bahkan lebih tepatnya ingin memamerkan Dutha.
tapi sepertinya mereka dekat dengan sendirinya.
♥
“Tadi kalian ngobrolin apa?”
Dutha terdiam beberapa saat. “Apa
lagi, kamu lah”
“Aku?”
“Hmm”
Dutha menghela nafas. “Bi, kamu ngga
ngerasa Arman baik banget?”
Aku terdiam. “Semua orang punya sisi
baik kan? Biasa aja kok.”
“Kamu, suka ga sama dia?”
“Dutha!!!!”
Dutha terbahak. Tapi terlalu
dipaksakan.
“Kamu, lebih baik sama dia Bi,.
Maksud aku, Nin”
Aku tertegun. Dutha manggil aku Anin?
“Ayah kamu ngga mungkin salah pilih
Nin,.”
“Berhenti manggil aku Anin!!”
Aku merasa seperti dalam ketidaknyataan.
Aku mencari apa yang difikirkan Dutha lewat matanya.
“Kita putus aja Nin,..”
Jawabannya mengejutkan. Aku berharap
maksud Dutha bukan,.. tapi,..
“Dutha,.”
Dutha tertawa pahit. “Aku lucu kan
hari ini Bi?”
Mata Dutha berair. Air matanya jatuh.
“Kamu kenapa..?” bisikku serak. “Apa
Arman nyuruh kamu untuk ngejauh dari aku?”
“Bukan Bi!! Bukan!!”
“Jadi?”
“Karna dia lebih baik dari aku,.”
Aku menghela nafas. “Setiap orang punya
kelebihan dan kekurangan Dutha! Maksud kamu Arman lebih baik dalam hal apa?
Karna dia seorang dokter?? Karna dia punya uang?? Menurut kamu aku cewek matre
yang cuman nyari hal sedangkal itu?? Kamu ngga percaya kalo kita bisa hidup
besok, lusa dan seterusnya pake usaha kita, kerja keras kita?? Kamu bilang kamu
percaya sama aku, tapi kamu malah gini...” mataku mulai berair, aku menangis.
Dutha meraih tanganku dan
menggenggamnya. “Jangan nangis Bi,.. kamu akan jauh lebih baik setelah aku ngga
ada. Aku sama ayah kamu pilih orang yang tepat untuk kamu Bi, Arman... mulai
hari ini aku ngelepasin kamu Bi. Aku sayang kamu,..”
Aku melepaskan genggaman tangan Dutha.
“kamu ngaco! Setelah kamu ngga ada? Aku lebih baik?? Kamu salah!! Tolong Dutha,
kasih tau kenapa, ada apa sama kamu sampe kamu mutusin buat kayak gini??”
Aku menangis semakin hebat. Tidak
mengerti dengan jalan fikiran Dutha yang entah terpengaruh oleh apa hingga
dengan mudahnya membuat keputusan sebodoh ini. Saat ini ia seperti bukan
dirinya. Dutha selalu mengikutsertakan aku dalam setiap hal yang berhubungan
dengan kami. Dutha bukan orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Dutha
sama sekali ngga egois!! Ada apa Dutha?? hatiku menjerit keras.
Mobil Arman tiba-tiba datang dan
menghampiri kami. Arman keluar dari dalam mobil itu diikuti ayah.
Aku terpaku.
Dutha membantuku berdiri dan
perlahan membimbingku mendekati Arman dan Ayah.
Airmataku tumpah. Tubuhku bergetar
hebat. Aku menggenggam kuat tangan Dutha. memintanya berhenti melangkah. Tapi Dutha
mengisyaratkan kata tidak. Ia menggenggam tanganku tak kalah kuat tapi tetap
membantuku berjalan mendekati Arman dan Ayah.
Detik ini aku merasa seperti orang
bodoh. Bahkan jauh lebih dari itu aku merasa seperti boneka yang Dutha, Ayah
dan Arman mainkan. Semau mereka. Tanpa aku tau apa alasan yang bisa membuat
mereka bertindak sekejam ini.
Dutha,...
hatiku berbisik
kecewa padanya. Tapi juga tidak, bukan kecewa. Hanya tak percaya dengan
sikapnya. Aku yakin ada yang salah dengan situasi ini.
Dutha sudah melepaskan genggaman
tangannya.
“Saya percayakan Anin pada anda
dokter Arman.”
Aku pasrah. Berusaha hanya mengerti
apa yang Dutha lakukan dan berjanji pada diri sendiri untuk mencari tau apa
yang terjadi padanya setelah ini.
“Terima kasih.” Ucap Arman.
Mataku masih tak lepas dari sosok Dutha
yang tersenyum pahit. Dutha melambaikan tangan sejenak kemudian berbalik dan
melangkah pergi...
Sampai
ketemu lagi Dutha,..
bisikku dalam hati.
♥
Setelah hari itu aku tidak pernah
menemukan Dutha. Dutha menghindariku tanpa alasan. Orang-orang disekeliling Dutha
membantunya begitu baik. Semakin aku berusaha mencari dimana Dutha semakin aku
tidak akan pernah menemukannya.
Pagi ini, aku memberanikan diri
mengunjungi kosan Dutha. meski perasaan takut akan Bu Maya menjalar hebat karna
sang empunya kosan ini bakal marah besar kalo tau kos-kosannya dikunjungi
wanita. Prinsipnya wanita dilarang masuk dengan alasan apapun!!!
Di halaman kos, aku bertemu Bu Maya.
Dan ekspresi Bu Maya mengejutkan. Matanya berkaca. Ia bergegas menghampiriku
dan memelukku erat.
“Kamu pasti sedih,..” ucapnya.
Aku terpaku. “Bu, ada apa?”
Bu Maya melepaskan pelukannya
seperti terkejut.
“Kamu ngga tau?? Kanker Dutha
kambuh.”
Aku seperti kehilangan nyawa.
“Kka..n..ke..r??”
“Iya Kanker otaknya yang semula
dinyatakan sembuh ternyata sekarang malah semakin parah. Rumah sakit yang
menangani Dutha dulu ternyata menginformasikan hasil yang salah. Dan berdampak
sangat buruk pada Dutha,.”
Aku kehilangan keseimbangan.
Pandanganku kabur dan kepalaku merasakan pusing yang amat hebat. Dan beberapa
detik setelahnya aku sudah tergeletak di tanah.
♥
Aku membuka mata perlahan dan
menemukan Ayah yang tengah menemaniku diruangan berdinding putih pucat ini.
“Yah,. “ panggilku padanya.
“Kenapa? Mana yang sakit?” reaksi
ayah memperlihatkan kekhawatirannya.
Mataku berkaca, tanganku menunjukkan
bagian hati. “Disini yah,..” akhirnya tangisku tumpah.
“Ayah tau..”
“Anin sayang Dutha yahh,...”
“iya, Dutha juga sayang sama kamu.
Jadi jangan salah faham sama sikapnya. Menurut ayah dia sudah mengambil
keputusan yang benar.”
“Engga Yah, Dutha salah...”
Aku beranjak dari tempat tidur dan
berjalan keluar kamar disusul ayah yang tertatih mengejarku. Aku mencari jalan
keluar rumah sakit ini. Ingin kembali bertemu Bu Maya dan ingin banyak bertanya
sekaligus berterima kasih pada wanita paruh baya itu.
Tapi sebelum aku sempat menemukan
apa yang kucari, aku menemukan Arman dengan beberapa orang suster yang tengah
membawa seorang pasien. Awalnya aku hanya melihat Arman. Tapi kemudian mataku
terbelalak ketika pasien yang kulihat adalah Dutha.
“Dutha,..”
Aku mengikuti Arman dan para suster
itu.
“Kamu istirahat dulu Nin, aku yang
urus Dutha.”
“Jadi kamu udah tau juga Man??”
Arman mengangguk. “Dutha pasien aku.
Sejak beberapa bulan yang lalu.”
Aku mencari tangan Dutha dan
kemudian menggenggamnya erat. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak
melepaskan tangannya. Aku akan terus berada disampingnya.
Mataku memperhatikan wajah Dutha
yang pucat. Tak ada warna senyumnya yang biasa ia pelihatkan setiap pagi saat
menjemputku. Bibirnya yang kering tak akan lagi bisa menyanyikan sebuah lagu
saat aku memeluknya. Tangannya yang tak berdaya tak akan bisa lagi membelai
lembut rambutku. Menyadari semua tentang Dutha akan hilang membuat hatiku
perih. Airmataku terus mengalir begitu saja.
Tuhan,
tolong jangan ambil dia sekarang. Aku masih belum mampu membuatnya bahagia
seperti ia membahagiakanku. Banyak hal yang ingin ku lakukan untuknya. Banyak
hal yang ingin ku bagi dengannya. Tolong Tuhan,.. doaku dalam hati.
♥
Jam rumah sakit menunjukkan jam 11
malam ketika Dutha membuka matanya perlahan. Pandangan Dutha yang buram
menemukanku yang terlihat lelah dengan mata bengkak dan airmata yang tak
berhenti mengalir. Tangannya yang ku genggam mulai bergerak. Jarinya bergerak
perlahan menyentuh tanganku seolah ia akan membelainya seandainya ia masih
punya kekeuatan untuk itu.
“Seharusnya kamu cerita sama aku,...”
ucapku serak dengan senyum yang ku paksakan.
Masih dengan jarinya Dutha
menuliskan kata “i love u” di tanganku.
“Aku tau..” airmataku tumpah lagi.
Melihat Dutha yang masih bertahan
dan berusaha dengan baik mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan membuat
hatiku terasa pecah. Kilau terang dimatanya hilang berganti dengan mata sayu
yang berkedip tanpa tenaga. Tapi rasa nyaman yang Dutha ciptakan masih terasa.
Meski ia dalam keadaan tak seperti biasanya.
“Kamu harus sembuh, jangan pernah berfikir
untuk ninggalin aku. Kamu ngerti? Jangan lagi ngomongin Arman kalo kita lagi
berdua. Jangan bandingin dia sama kamu. Karna kamu ngga ada bandingannya.
Ngerti?? jangan harap juga kalo aku ngga akan nyari kamu lagi. aku akan terus
nyari kamu, nempel ke kamu terus menerus. Aku ngga peduli kamu mau marah atau
mau ngusir aku sekalipun. Aku juga,..hiks.. pokoknya,.. jangan tinggalin aku,
tolong...”
Saat mataku terus berair tanpa
henti, Dutha berusaha membuka mulutnya perlahan seolah ingin berbisik padaku.
Tanpa berfikir aku langsung mendekatkan telingaku di mulut Dutha.
“Pe..lu..kk aa.ku.. Bi,..” bisiknya
terbata.
Aku memeluk Dutha erat. Lebih erat
dari sebelumnya. Menangis hebat disana. Memberikan kesungguhan hatiku untuk
memberinya pelukan terhangat yang ku harap akan ku lakukan besok, lusa atau
puluhan tahun yang akan datang. Tapi, semakin aku memeluknya erat, aku merasa Dutha
semakin melemah. Detak jantungnya perlahan menurun. Tangannya kini tak lagi
menggenggam tanganku.
Arman yang ternyata tengah melihat
kami berlari cepat ke arah kami dan memintaku melepaskan Dutha untuk diperiksa.
Beberapa detik setelah itu 2 orang suster memintaku keluar dari kamar Dutha.
tak ada yang bisa kulakukan, itulah hal yang paling kusesali. Aku hanya terpaku
dalam diam. Entah mengapa kenangan tentang Dutha terbayang jelas seperti aku
melihatnya di depan mata. Saat pertama kami bertemu, kencan kami yang
berantakan, hari jadi kami, ulang tahunku kemarin,.. dan BRUKKK!!
Pandanganku gelap, kesadaranku
hilang.
♥
Rasanya
masih kedengeran suara lantunan lagu “with you” milik chrish brown yang Dutha bagi lewat iPodnya. Saat
itu kami duduk diatas motor Dutha sambil
nikmatin angin sore taman kota.
“Nin,..” Dutha berbalik badan hingga kami
berhadapan.
“Hm??”
“Kitaa
nikah yuk!!” tegas Dutha.
“Hah??!!”
mataku membulat. Dutha
mengajakku menikah tanpa pernah ngajak jadian.
“Ga usah
kaget Nin,..” tawa Dutha.
“Emang nikah
gampang? Kalo ga ada rasa tanggung jawab antara kedua pasangan pernikahan bakal
berantakan. Apalagi buat kita yang masih muda, masih minim pengalaman, masih
ngikutin ego, masih nyoba hal-hal baru”.
“Aku
serius. Dan aku ngga pernah seserius ini. Aku cuman ngerasa nyaman setiap sama
kamu, dan aku pengen senyaman ini sepanjang hidup aku. Dimulai dari hari ini.”
Aku
tertegun. Kalimat sempurna untuk ngejawab pertanyaanku yang sebenernya masih
panjang.
“Say yes
please,.”
Aku hanya
tersenyum lebar sambil mengangguk mengiyakan. Dan Dutha ngulangin lagu “with
you”nya sekali lagi sambil nyenderin kepalanya di pundakku.
Aku
tersenyum dan tersipu mengingat saat itu.
“Kita
jadi pergi kan?” Arman membangunkanku dari lamunan.
“Jadi.
Awas ya kalo filmnya bikin aku tidur lagi!!”
Arman
tersenyum “Kali ini pasti engga.”
Aku
membalas senyum Arman dan melangkah pergi bersamanya.
Dutha,.. tenanglah disana.
Aku disini bahagia Karna sayangmu yang tak kau bawa
pergi bersamamu,..♥
18 Agustus 2011
yuliakula
Tidak ada komentar:
Posting Komentar