Entri Populer

Jumat, 02 November 2012

-AninDutha-


 Arman membawakanku ice cream berukuran besar dengan cake cantik bertuliskan “HAPPY BIRTHDAY” diatasnya. Setangkai bunga mawar merahpun sudah diletakkan Arman di kursi taman tempat dimana kini aku sudah duduk manis.
“Selamat ulang tahun Anin,.” ucapnya begitu manis.
Aku tertegun karna terlalu terkejut. Orang-orang disekeliling kami melihat dengan jelas suasana indah yang sama sekali tak kunikmati ini. Beberapa orang diantara mereka menjerit entah mengapa. Beberapa yang lainnya saling berbisik, pun entah mengapa. Aku mengamati Arman yang masih bersiap mengeluarkan sebuah kado berukuran besar dari mobilnya.
“Cukup Man,.”
Aku mendekati Arman yang berusaha keras mengeluarkan kado besarnya dari dalam mobil.
Arman menghentikan aktifitasnya sejenak “Aku seneng kok bisa ngelakuin banyak hal buat kamu Nin,.”
“Kamu kenapa sih Man? Jangan gini,.” Aku berusaha menghentikan Arman. “Tolong,..”
Arman sama sekali tak bergeming.
Aku membawa semua yang sudah Arman berikan dan menyimpannya satu persatu ke dalam mobil Arman. Arman menghela nafasnya, tersenyum dan membantuku membawa salah satunya.
“Kamu yang kenapa Nin,.?” Arman masih dengan intonasi suaranya yang lembut.
“Tolong cari cewek lain yang lebih baik dari aku, yang pantes buat dikasih hal seindah ini sama kamu. Kamu orang baik Man, banyak cewek yang pasti bisa ngebalas sayang kamu, aku,..”
“Aku mau kamu!” tegas Arman memotong pernyataan Anin.
“Aku udah jelasin, aku ngga bisa Man. aku sayang Dutha. Jadi sekali lagi aku mohon jangan gini..”
“Kalo gitu kamu cukup terima apa yang udah aku siapin ya. Aku ngga akan maksa kamu buat sayang sama aku kok,.” Arman masih tersenyum manis.
Aku menghentikan gerakan tangan Arman, meraihnya dan menuntunnya untuk mengikutiku duduk di kursi taman. Melihat Arman yang baik, aku hanya ingin ia menjadi teman terbaik yang dipilih ayah untukku. Aku merasa Arman butuh pengertian lagi untuk lebih mengerti keadaan yang aku yakin sama sekali tidak kami inginkan.
“Kenapa?” tanya Arman.
“Hmh,.. cuman pengen duduk disini. Ngebiarin kamu istirahat. Dari tadi sibuk angkat ini itu, yang malah aku balikin ke mobil kamu.. jadi mending kita ngobrol disini aja.”
“Kamu aneh. Dan aku suka.”
“Aku juga Man.” arman terhenyak. Sejenak mata kami bertemu. Kemudian saling menikmati indahnya danau yang berada tepat didepan tempat duduk kami. “Waktu SMA, temen-temen aku pada sibuk sama cowok-cowok mereka. Seneng, sedih, bimbang, ragu, perasaan seperti itu bercampur mewarnai kisah mereka masing-masing. Tapi saat itu, aku cuman ngagumin sosok yang aku mimpiin. Hehehee.. kamu tau sosok seperti apa yang aku mimpiin? Yang cerdas kayak kamu, yang pekerja keras kayak kamu, yang punya prinsip kayak kamu,dokter kayak kamu...”
“Kenapa ga milih aku kalo gitu? Kamu ngga pengen mimpi kamu jadi kenyataan?” Arman membawa pertanyaannya seolah begitu ringan, tanpa beban.
Aku mengangguk mengiyakan. “Iya kamu bener. Tapi mimpi beda sama kenyataan. Kenyataannya, aku nyaman dengan sosok Dutha yang berfikir begitu sederhana, bersikap apa adanya dan mengajarkan aku bagaimana mempercayai seseorang dan dipercaya seseorang. Dengan adanya Dutha aku ngerasa utuh dan punya titik lemah, selayaknya manusia biasa...”
Arman seperti kehilangan kata.
Aku hanya membiarkannya membisu. Mencerna apa yang kami bicarakan dan membuat keputusan yang benar. Ayah memang sangat benar mengenalkan aku pada Arman yang Ayah bilang jauh lebih baik dibandingkan Dutha. Ayah hanya ingin yang terbaik untuk anak sulungnya, dan aku mengerti. Dan meski aku tidak ingin Ayah kecewa, tapi aku juga tidak akan melepaskan diri dari Dutha..
“Happy birthday,.” Dutha menyalakan sebuah lilin putih diatas sebuah cupcake yang ia buat sendiri. Kotoran oli yang masih bertebaran diwajah Dutha membuatku ingin terbahak.
“Ngga bilang makasih?” Dutha tersenyum dan membuatku semakin ingin terbahak.
“Abis bikin cupcake apa dari bengkel langsung kesini?”
Dutha menggaruk rambutnya yang aku yakin tidak gatal.
“Aku bikin cupcakenya tadi pagi Bi, waktu kamu ke taman sama Arman”.
Aku mematung. Kemudian memperhatikan raut muka Dutha yang terlihat tidak apa-apa.
“Kamu ngga marah? Ngga cemburu aku pergi sama cowok lain????”
Dutha tertawa.”engga”
Aku membesarkan mata. “Kenapa?”
Dutha melepaskan lilin dari cupcake yang dibawanya. Memotong sebagiannya dan memberikannya padaku. “Cobain,.”
Aku memakan cupcake yang diberikan Dutha, mengunyahnya sebentar kemudian mengeluarkan seluruhnya. “PAHIIITTT!!” rengekku.
Dutha tertawa. “Karna itu Bi, karna kamu ngga pernah bohong. Apapun yang terjadi, kamu pasti jujur sama aku. Kayak rasa cupcake yang aku buat ini. Padahal kamu bisa aja kan makan cupcakenya tapi menderita karna rasanya pahit banget. Makasih ya Bi, sejelek apapun aku, kamu tetep sayang sama aku,..”
Dutha selalu begini. Membawa aliran air sejuk yang menyejukkan hati dan membuat mataku berair ingin menangis.
“Waaahhhh kamu tuh ya ngomong apa sih? cerewet!!!” aku memeluk Dutha erat. Bersandar disana.
Dutha membalas pelukanku lebih erat. Membelai rambutku lembut.
“Kau begitu sempurna,,,” Dutha mulai bernyanyi “..dimataku kau begitu indah,,”
Aku menepuk punggung Dutha pelan “Ga usah pake nyanyi!”
Dutha semakin mempererat pelukannya “Kau membuat diriku akan slalu memujamu,...”
“Dutha berhentiiii...!!”
Pelukan Dutha semakin erat dan nyanyiannya semakin keras “Disetiap langkahku,. Ku kan slalu memikirkan dirimu,..”
“Duthaaaaa,...!!”
Ayah menyalakan lampu kamarku sejenak setelah aku menaiki ranjangku bersiap untuk tidur.
“Ayah? Baru pulang?”
Ayah mengangguk. Kemudian duduk disampingku.
“Hari ini gimana? Arman tadinya mau bikin pesta ulang tahun buat kamu. Tapi ayah larang.”
“Bagus yah!!” aku mengacungkan jempolku.
Ayah tertawa “Ayah kan tau apa yang kamu mau.”
“Makasih yah..” ucapku manja. “Dutha tadi kesini yah, dia buatin aku cupcake kecil lucuuu banget yah. Tapi udah abis kita makan berdua. Hihiii”
“Dutha aja yang dateng? Biasanya Lala, Raya,.. mereka kan temen-temen kamu.”
“Kita kan udah sama-sama sibuk yah... jadi ga bisa kayak dulu.. tapi mereka ngucapin kok. Lewat sms.”
“Kamu sama Arman gimana?”
“Maksud Ayah?”
“Perjodohan kalian...” ayah mulai berhati-hati.
“Ayah ngga setuju  ya aku sama Dutha?”
“Bukan, ayah pasti ngehargain apapun pilihan kamu. Apalagi Dutha juga orangnya sopan dan baik. Ayah cuman..”
“Pengen yang terbaik buat aku??”
Ayah mengangguk.
“Yah,..” aku memeluk Ayah. “Dutha yang terbaik, Insya Allah,.” Bisikku pada ayah.
Pagi ini aku menemukan Dutha melambaikan tangannya dari bawah ketika aku membuka jendela kamar. Aku membalas lambaian tangannya dan mengisyaratkan Dutha untuk menungguku sebentar.
Sebelum keluar, aku mencari sesuatu yang bisa kami makan bersama di perjalanan. Setelah lama mencari, akhirnya aku menemukan roti yang aku beli tadi malam.
Aku dikejutkan oleh Dutha yang ternyata sedang berbincang akrab dengan Arman yang tampaknya baru datang. Melihat mereka begitu dekat membuatku lega. Awalnya aku memang ingin mengenalkan Dutha pada Arman, bahkan lebih tepatnya ingin memamerkan Dutha. tapi sepertinya mereka dekat dengan sendirinya.
“Tadi kalian ngobrolin apa?”
Dutha terdiam beberapa saat. “Apa lagi, kamu lah”
“Aku?”
“Hmm”
Dutha menghela nafas. “Bi, kamu ngga ngerasa Arman baik banget?”
Aku terdiam. “Semua orang punya sisi baik kan? Biasa aja kok.”
“Kamu, suka ga sama dia?”
“Dutha!!!!”
Dutha terbahak. Tapi terlalu dipaksakan.
“Kamu, lebih baik sama dia Bi,. Maksud aku, Nin”
Aku tertegun. Dutha manggil aku Anin?
“Ayah kamu ngga mungkin salah pilih Nin,.”
“Berhenti manggil aku Anin!!”
Aku merasa seperti dalam ketidaknyataan. Aku mencari apa yang difikirkan Dutha lewat matanya.
“Kita putus aja Nin,..”
Jawabannya mengejutkan. Aku berharap maksud Dutha bukan,.. tapi,..
“Dutha,.”
Dutha tertawa pahit. “Aku lucu kan hari ini Bi?”
Mata Dutha berair. Air matanya jatuh.
“Kamu kenapa..?” bisikku serak. “Apa Arman nyuruh kamu untuk ngejauh dari aku?”
“Bukan Bi!! Bukan!!”
“Jadi?”
“Karna dia lebih baik dari aku,.”
Aku menghela nafas. “Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan Dutha! Maksud kamu Arman lebih baik dalam hal apa? Karna dia seorang dokter?? Karna dia punya uang?? Menurut kamu aku cewek matre yang cuman nyari hal sedangkal itu?? Kamu ngga percaya kalo kita bisa hidup besok, lusa dan seterusnya pake usaha kita, kerja keras kita?? Kamu bilang kamu percaya sama aku, tapi kamu malah gini...” mataku mulai berair, aku menangis.
Dutha meraih tanganku dan menggenggamnya. “Jangan nangis Bi,.. kamu akan jauh lebih baik setelah aku ngga ada. Aku sama ayah kamu pilih orang yang tepat untuk kamu Bi, Arman... mulai hari ini aku ngelepasin kamu Bi. Aku sayang kamu,..”
Aku melepaskan genggaman tangan Dutha. “kamu ngaco! Setelah kamu ngga ada? Aku lebih baik?? Kamu salah!! Tolong Dutha, kasih tau kenapa, ada apa sama kamu sampe kamu mutusin buat kayak gini??”
Aku menangis semakin hebat. Tidak mengerti dengan jalan fikiran Dutha yang entah terpengaruh oleh apa hingga dengan mudahnya membuat keputusan sebodoh ini. Saat ini ia seperti bukan dirinya. Dutha selalu mengikutsertakan aku dalam setiap hal yang berhubungan dengan kami. Dutha bukan orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Dutha sama sekali ngga egois!! Ada apa Dutha?? hatiku menjerit keras.
Mobil Arman tiba-tiba datang dan menghampiri kami. Arman keluar dari dalam mobil itu diikuti ayah.
Aku terpaku.
Dutha membantuku berdiri dan perlahan membimbingku mendekati Arman dan Ayah.
Airmataku tumpah. Tubuhku bergetar hebat. Aku menggenggam kuat tangan Dutha. memintanya berhenti melangkah. Tapi Dutha mengisyaratkan kata tidak. Ia menggenggam tanganku tak kalah kuat tapi tetap membantuku berjalan mendekati Arman dan Ayah.
Detik ini aku merasa seperti orang bodoh. Bahkan jauh lebih dari itu aku merasa seperti boneka yang Dutha, Ayah dan Arman mainkan. Semau mereka. Tanpa aku tau apa alasan yang bisa membuat mereka bertindak sekejam ini.
Dutha,... hatiku berbisik kecewa padanya. Tapi juga tidak, bukan kecewa. Hanya tak percaya dengan sikapnya. Aku yakin ada yang salah dengan situasi ini.
Dutha sudah melepaskan genggaman tangannya.
“Saya percayakan Anin pada anda dokter Arman.”
Aku pasrah. Berusaha hanya mengerti apa yang Dutha lakukan dan berjanji pada diri sendiri untuk mencari tau apa yang terjadi padanya setelah ini.
“Terima kasih.” Ucap Arman.
Mataku masih tak lepas dari sosok Dutha yang tersenyum pahit. Dutha melambaikan tangan sejenak kemudian berbalik dan melangkah pergi...
Sampai ketemu lagi Dutha,.. bisikku dalam hati.
Setelah hari itu aku tidak pernah menemukan Dutha. Dutha menghindariku tanpa alasan. Orang-orang disekeliling Dutha membantunya begitu baik. Semakin aku berusaha mencari dimana Dutha semakin aku tidak akan pernah menemukannya.
Pagi ini, aku memberanikan diri mengunjungi kosan Dutha. meski perasaan takut akan Bu Maya menjalar hebat karna sang empunya kosan ini bakal marah besar kalo tau kos-kosannya dikunjungi wanita. Prinsipnya wanita dilarang masuk dengan alasan apapun!!!
Di halaman kos, aku bertemu Bu Maya. Dan ekspresi Bu Maya mengejutkan. Matanya berkaca. Ia bergegas menghampiriku dan memelukku erat.
“Kamu pasti sedih,..” ucapnya.
Aku terpaku. “Bu, ada apa?”
Bu Maya melepaskan pelukannya seperti terkejut.
“Kamu ngga tau?? Kanker Dutha kambuh.”
Aku seperti kehilangan nyawa. “Kka..n..ke..r??”
“Iya Kanker otaknya yang semula dinyatakan sembuh ternyata sekarang malah semakin parah. Rumah sakit yang menangani Dutha dulu ternyata menginformasikan hasil yang salah. Dan berdampak sangat buruk pada Dutha,.”
Aku kehilangan keseimbangan. Pandanganku kabur dan kepalaku merasakan pusing yang amat hebat. Dan beberapa detik setelahnya aku sudah tergeletak di tanah.
Aku membuka mata perlahan dan menemukan Ayah yang tengah menemaniku diruangan berdinding putih pucat ini.
“Yah,. “ panggilku padanya.
“Kenapa? Mana yang sakit?” reaksi ayah memperlihatkan kekhawatirannya.
Mataku berkaca, tanganku menunjukkan bagian hati. “Disini yah,..” akhirnya tangisku tumpah.
“Ayah tau..”
“Anin sayang Dutha yahh,...”
“iya, Dutha juga sayang sama kamu. Jadi jangan salah faham sama sikapnya. Menurut ayah dia sudah mengambil keputusan yang benar.”
“Engga Yah, Dutha salah...”
Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar disusul ayah yang tertatih mengejarku. Aku mencari jalan keluar rumah sakit ini. Ingin kembali bertemu Bu Maya dan ingin banyak bertanya sekaligus berterima kasih pada wanita paruh baya itu.
Tapi sebelum aku sempat menemukan apa yang kucari, aku menemukan Arman dengan beberapa orang suster yang tengah membawa seorang pasien. Awalnya aku hanya melihat Arman. Tapi kemudian mataku terbelalak ketika pasien yang kulihat adalah Dutha.
“Dutha,..”
Aku mengikuti Arman dan para suster itu.
“Kamu istirahat dulu Nin, aku yang urus Dutha.”
“Jadi kamu udah tau juga Man??”
Arman mengangguk. “Dutha pasien aku. Sejak beberapa bulan yang lalu.”
Aku mencari tangan Dutha dan kemudian menggenggamnya erat. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melepaskan tangannya. Aku akan terus berada disampingnya.
Mataku memperhatikan wajah Dutha yang pucat. Tak ada warna senyumnya yang biasa ia pelihatkan setiap pagi saat menjemputku. Bibirnya yang kering tak akan lagi bisa menyanyikan sebuah lagu saat aku memeluknya. Tangannya yang tak berdaya tak akan bisa lagi membelai lembut rambutku. Menyadari semua tentang Dutha akan hilang membuat hatiku perih. Airmataku terus mengalir begitu saja.
Tuhan, tolong jangan ambil dia sekarang. Aku masih belum mampu membuatnya bahagia seperti ia membahagiakanku. Banyak hal yang ingin ku lakukan untuknya. Banyak hal yang ingin ku bagi dengannya. Tolong Tuhan,.. doaku dalam hati.
Jam rumah sakit menunjukkan jam 11 malam ketika Dutha membuka matanya perlahan. Pandangan Dutha yang buram menemukanku yang terlihat lelah dengan mata bengkak dan airmata yang tak berhenti mengalir. Tangannya yang ku genggam mulai bergerak. Jarinya bergerak perlahan menyentuh tanganku seolah ia akan membelainya seandainya ia masih punya kekeuatan untuk itu.
“Seharusnya kamu cerita sama aku,...” ucapku serak dengan senyum yang ku paksakan.
Masih dengan jarinya Dutha menuliskan kata “i love u” di tanganku.
“Aku tau..” airmataku tumpah lagi.
Melihat Dutha yang masih bertahan dan berusaha dengan baik mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan membuat hatiku terasa pecah. Kilau terang dimatanya hilang berganti dengan mata sayu yang berkedip tanpa tenaga. Tapi rasa nyaman yang Dutha ciptakan masih terasa. Meski ia dalam keadaan tak seperti biasanya.
 “Kamu harus sembuh, jangan pernah berfikir untuk ninggalin aku. Kamu ngerti? Jangan lagi ngomongin Arman kalo kita lagi berdua. Jangan bandingin dia sama kamu. Karna kamu ngga ada bandingannya. Ngerti?? jangan harap juga kalo aku ngga akan nyari kamu lagi. aku akan terus nyari kamu, nempel ke kamu terus menerus. Aku ngga peduli kamu mau marah atau mau ngusir aku sekalipun. Aku juga,..hiks.. pokoknya,.. jangan tinggalin aku, tolong...”
Saat mataku terus berair tanpa henti, Dutha berusaha membuka mulutnya perlahan seolah ingin berbisik padaku. Tanpa berfikir aku langsung mendekatkan telingaku di mulut Dutha.
“Pe..lu..kk aa.ku.. Bi,..” bisiknya terbata.
Aku memeluk Dutha erat. Lebih erat dari sebelumnya. Menangis hebat disana. Memberikan kesungguhan hatiku untuk memberinya pelukan terhangat yang ku harap akan ku lakukan besok, lusa atau puluhan tahun yang akan datang. Tapi, semakin aku memeluknya erat, aku merasa Dutha semakin melemah. Detak jantungnya perlahan menurun. Tangannya kini tak lagi menggenggam tanganku.
Arman yang ternyata tengah melihat kami berlari cepat ke arah kami dan memintaku melepaskan Dutha untuk diperiksa. Beberapa detik setelah itu 2 orang suster memintaku keluar dari kamar Dutha. tak ada yang bisa kulakukan, itulah hal yang paling kusesali. Aku hanya terpaku dalam diam. Entah mengapa kenangan tentang Dutha terbayang jelas seperti aku melihatnya di depan mata. Saat pertama kami bertemu, kencan kami yang berantakan, hari jadi kami, ulang tahunku kemarin,.. dan BRUKKK!!
Pandanganku gelap, kesadaranku hilang.
Rasanya masih kedengeran suara lantunan lagu “with you” milik chrish brown yang Dutha bagi lewat iPodnya. Saat itu kami duduk diatas motor Dutha sambil nikmatin angin sore taman kota.
“Nin,..” Dutha berbalik badan hingga kami berhadapan.
“Hm??”
“Kitaa nikah yuk!!” tegas Dutha.
“Hah??!!” mataku membulat. Dutha mengajakku menikah tanpa pernah ngajak jadian.
“Ga usah kaget Nin,..” tawa Dutha.
“Emang nikah gampang? Kalo ga ada rasa tanggung jawab antara kedua pasangan pernikahan bakal berantakan. Apalagi buat kita yang masih muda, masih minim pengalaman, masih ngikutin ego, masih nyoba hal-hal baru”.
“Aku serius. Dan aku ngga pernah seserius ini. Aku cuman ngerasa nyaman setiap sama kamu, dan aku pengen senyaman ini sepanjang hidup aku. Dimulai dari hari ini.”
Aku tertegun. Kalimat sempurna untuk ngejawab pertanyaanku yang sebenernya masih panjang.
“Say yes please,.”
Aku hanya tersenyum lebar sambil mengangguk mengiyakan. Dan Dutha ngulangin lagu “with you”nya sekali lagi sambil nyenderin kepalanya di pundakku.

Aku tersenyum dan tersipu mengingat saat itu.
“Kita jadi pergi kan?” Arman membangunkanku dari lamunan.
“Jadi. Awas ya kalo filmnya bikin aku tidur lagi!!”
Arman tersenyum “Kali ini pasti engga.”
Aku membalas senyum Arman dan melangkah pergi bersamanya.

Dutha,.. tenanglah disana.
Aku disini bahagia Karna sayangmu yang tak kau bawa pergi bersamamu,..



18 Agustus 2011
yuliakula

Tidak ada komentar:

Posting Komentar