Entri Populer

Minggu, 24 Oktober 2010

‘Kesempatan kedua’

Aku menunggu.
Satu jam Sembilan belas menit sudah berlalu. Tapi sosok yang aku tunggu masih belum juga datang. Aku mulai resah, aku takut sosok itu benar-benar tak muncul. Harapanku untuk banyak bicara dan kembali pada masa yang indah itu mungkin hanya akan jadi hal yang cukup pantas untuk dilupakan. Karna aku tau, sosoknya selalu angkuh. Butuh tenaga ekstra untuk membuatnya bisa percaya. Butuh seribu cara untuk membuatnya bicara. Dan butuh sejuta kesabaran untuk menunggunya jujur.
Sosok angkuh itu, sosok yang amat aku sayang. Rivan…
“Maaf udah bikin kamu nunggu lama. Tadi ada kelas tambahan.” Ucap Rivan yang mengagetkanku dari lamunan.
“Ngga papa Van, aku tau kamu sibuk. Apa kabar?”
“Aku baik.”
Tiga bulan lebih aku tidak lagi menjumpainya. Tidak lagi mengirim sms padanya dan tak sekalipun meneleponnya. Bahkan nomor handphonenyapun ku hapus habis dari phonebook kedua hpku. Aku bukan membencinya. Aku tau tak sekalipun terlintas dalam fikirannya untuk menyakitiku apalagi mempermainkanku. Aku tau itu.
Tapi keadaan memberiku harapan indah lain yang tak pernah aku bayangkan. Sosok Rivan adalah sosok sahabat dalam setiap kisah hidupku. Cuman Rivan yang bisa menjadi pendengar yang baik untuk setiap ceritaku. Hanya dia yang bisa memberikanku sebuah penghargaan yang tak pernah orang lain berikan. Setelah Naila sahabatku meninggal.
“Kenapa kamu mau ketemu aku lagi Ta?” Rivan masih sedingin es. Matanya tak lagi menatapku, senyumnya tak lagi mengembang untukku. Ah.. sakit sekali rasanya.
Tapi bagaimanapun sikap Rivan sekarang, itu cukup pantas. Aku sadar, selama ini aku yang salah. Ngga seharusnya aku menilai kedekatan kami lebih dari teman. Ngga seharusnya aku bertanya dan berfikir macam-macam. Tapi, semua yang aku rasa dan yang aku fikir beralasan. Apa aku masih salah?
“Aku minta maaf….. akhir-akhir ini kamu ngga pernah pergi dari fikiran aku. Aku takut, mungkin masih ada kesalahan yang belum bisa kamu maafin hingga rasa bersalah itu masih ada. Maafin aku Van, maaf…”
Aku malu. Aku egois. Selama ini, aku cuman mikirin apa yang aku rasain. Tanpa mikir apa yang Rivan rasain.
“Ngga ada yang salah. Jadi ngga ada yang perlu di maafin.” Rivan mulai melunak. Aku tau,Rivan akan selalu jadi Rivan yang aku kenal. Rivan yang baik, Rivan yang tulus.. Walaupun beberapa waktu yang lalu ada sedikit kalimat darinya yang mengiris perih hatiku, Aku tau itu bukan sosok Rivan yang sebenarnya. Itu hanya Rivan yang kecewa. Rivan yang ngga tau, aku jauh lebih kecewa darinya saat aku memutuskan untuk melepasnya. Berpisah darinya, dan siap sakit tanpa hadirnya.
Ya, setahun sudah kami menjalin persahabatan. Saling membagi cerita, membagi susah, membagi senang, bahkan menjadi tempat menangis dan marah. Aku sangat menikmati persahabatan kami. Persahabatan indah yang selalu aku junjung karna aku ngga mau kehilangan untuk yang kedua kalinya.
Sampai ahhirnya seseorang bernama Gigi resmi jadi pacar Rivan. Awalnya aku masih baik-baik saja. Aku ngerasa ngga ada yang salah. Kami masih asyik dengan hubungan persahabatan ini. Walaupun sebagai sahabat, aku ngga pernah sekalipun tau sosok Gigi seperti apa.
Waktu terus berjalan, sikap Rivan mulai memberiku pengertian berbeda. Kata kangen sering menyertai setiap kalimat dalam ucapannya di telfon. Bahkan kata sayang, baby, cinta, Rivan tulis di beberapa smsnya. Dan aku masih baik-baik aja.
Tapi.. aku cuman manusia biasa yang juga punya hati. Terselip satu harapan yang tumbuh dengan sendirinya. Menikmati kejadian indah yang selalu Rivan berikan. Aku mulai merasakan rasa lain itu, yang seharusnya jangan pernah aku rasain, yang menjadi kesalahan terbesar dan membawaku pada penyesalan yang amat dalam.
“Apa yang kamu rasain saat aku mutusin untuk pergi Van….?” Pertanyaan itu keluar begitu saja. Air mataku menetes.
Rivan masih dalam posisinya, menjauh dari pandangan mataku yang sudah berair. Rivan hanya diam. Entah apa yang ia fikirkan, tak tahu apa yang ia rasakan. Sikapnya tidak menandakan apa-apa.
“Kamu tau apa yang aku rasain setelah aku mutusin untuk ninggalin kamu? Yang aku rasain cuman sakit Van,….” Air mataku tumpah. Aku ngga peduli apa yang akan Rivan fikirin tentang aku setelah ini. Aku cuman pengen Rivan tau apa yang aku rasain. Itu aja.
“Aku… aku sa.. sayang.. ka..mu…”
Ingatanku membawaku pada satu malam lima bulan yang lalu. Saat itu Rivan menelfonku sekitar setengah satu malam. Saat mataku lelah, saat mimpiku menunggu, dan saat darurat karna besoknya ada ujian semester yang siap menghajar konsentrasiku. Tapi semua itu ibarat angin yang akan segera berlalu. Karna kenyataan yang indah kini sedang menghampiriku. Suara Rivan mulai terdengar. Kami membawa cerita masing-masing lagi. Tertawa bersama lagi. Saling memberi perhatian lagi.
Dan saat itulah kami membicarakan rasa lain itu, saling memberi tahu bahwa ternyata rasa itu memang ada.
Tapi sebelum aku benar-benar tersenyum senang, aku sadar Rivan berstatus ngga sendiri. Disampingnya ada Gigi. Entah apa yang udah aku lakuin hingga rasa itu membawa aku dan Rivan ke dalamnya. Membawa kami dalam satu keadaan yang berbeda dari biasanya. Memberitahukanku satu kesalahan yang ngga sengaja kami buat. Entah Rivan sadar atau tidak. Tapi aku, aku sungguh merasa bersalah. Aku udah berjalan terlalu jauh. Dan hanya satu yang jadi pertanyaan, apa yang sebenernya Rivan rasain saat itu?
“Mungkin emang aku yang berlebihan ngartiin pembicaraan kita malam itu. Kamu bilang kamu juga ngerasain rasa yang sama… aku seneng. Seneng banget. Tapi, saat itu kamu udah ada Gigi. Dan kamu ngga seharusnya ngerasain rasa yang sama itu buat aku…. Aku cuman sahabat kamu. Itu kenyataannya. Kenyataan pahit yang bikin aku ngerasa kalo aku harus pergi dari hidup kamu. Mungkin emang ngga adil buat kamu. Tapi seenggaknya aku bisa menghindar dari kesakitan yang aku bangun sendiri..” Tangisku tak bisa lagi ku bendung. Air mata yang ku tahan selama tiga bulan ini ku keluarkan detik ini juga. Bukan untuk membuat Rivan iba, atau untuk mendapatkan perhatian. Tapi…
“Semua orang bilang aku bodoh. Semua orang bilang aku salah. Mereka bilang kamu ngga penting!!! Tapi aku ngga bisa bohong, gimanapun kamu.. aku sayang kamu. Yang selalu ada di fikiran aku cuman kamu. Sekarang kasih tau aku, aku musti gimana… aku capek terus-terusan inget kamu… kenapa kamu selalu ada di fikiran aku..? Kasih tau aku, ada berapa banyak kesalahan aku yang belum bisa kamu maafin?”
“Aku udah bilang, ngga ada yang salah. Ngga ada yang perlu dimaafin.”
“Kesalahan aku banyak… aku tau itu. Dan yang aku bisa cuman minta maaf. Maafin aku Van, maaf….”
“Ya udah. Kamu udah aku maafin. Sekarang apa?” mata Rivan menatapku tajam. Ada gerlingan air mata juga disana. Oh Tuhan, hatiku miris. Bagaimana bisa adaku selalu membuatnya sakit dan menangis? Aku sayang dia Tuhan. Sangat sayang. Begitu sayang….
“Aku pengen kita kayak dulu lagi…”
Kini giliran mataku yang menatap tajam matanya, berharap ia akan memberi satu harapan baru untukku. Memberikan aku kesempatan kedua untuk menjadi sahabat yang selalu ada untuk menjadi sandaran. Aku tau akan sangat sulit untuknya, tapi aku ngga mau berhenti berharap.
“Kenapa..?” bisikan Rivan terdengar begitu jelas di telingaku.
Mata kamipun bertemu. Ingin sekali rasanya aku membelai lembut wajah Rivan. Memberinya sentuhan terbaik agar dia tau betapa sulitnya aku untuk berlari dari rasa sayang yang sudah terlanjur tertanam tanpa sengaja.
“Karna aku tau, Gigi mutusin kamu. Dia selingkuh.” Dan aku ngga mau kamu ngadepin kepahitan kenyataan itu sendiri. Aku mau jadi sandaran kamu lagi. Aku mau dengerin curhatan kamu lagi. Aku siap jadi tong sampah setiap keluhan kamu. Aku siap jadi pendengar setia yang selalu ada kapanpun dan dimanapun kamu mau. Asal, jangan pernah ada orang yang bilang kamu rapuh.. aku ngga bisa denger kamu sedih, aku ngga sanggup ngeliat kamu sedih, aku cuman pengen kamu seneng.
“Gimana bisa kamu tau itu Ta?” mata Rivan mencari jawaban dari mataku.
Rasanya aku ngga perlu jawab. Rivan bisa menemukan jawabannya dari mataku.
“Jangan sedih Van, ada aku disini….”
“Udah Ta, jangan bikin aku susah. Plis, lupain semuanya. Aku udah mulai hidup baru. Kamu juga harus gitu. Aku udah maafin kamu jauh sebelum kamu minta maaf. Karna seperti yang aku bilang. Ngga ada yang salah….”
Rivan beranjak dari tempat duduknya dan pergi.
Aku menangis tersedu. Menghabiskan sisa tenagaku untuk menghilangkan rasa sakit yang selalu menyerangku. Berharap dengan tangis ini akan merasa lebih baik. Walaupun rasanya teramat pahit. Tapi inilah kenyataan yang harus aku terima. Cinta memang ngga selalu harus memiliki. Harapan yang sempat ada memang hanya sekedar harapan. Rivan sudah pergi dan tak akan pernah kembali. Karna aku kenal Rivan. Sulit untuknya menyampingkan ego dan mengikuti kata hati.
Harapku pupus…
Kesempatan kedua untuk mengulang hari indah yang dulu, memang takkan pernah ada. Harusnya aku tau itu. Dan saat ini, aku hanya ingin menghabiskan air mataku untuknya. Karna setelah ini aku harus lebih kuat menghilangkan rinduku untuknya, menghapus kenangan indah bersamanya, dan hidup tanpa kasih sayangnya.

Written by :
Yuliakula’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar